Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Agustus 2008

PEREMPUAN BALI

APA PERANAN PEREMPUAN BALI ?
Bung Karno dalam bukunya "Dibawah Bendera Revolusi" berkata, "Kalau saya disuruh memilih salah satu dari anak perempuan dan laki-laki yang saya miliki karena hanya mempunyai uang cukup untuk menyekolahkan satu orang anak saja, maka saya akan memilih menyekolahkan anak perempuan saya. Karena di tangan perempuanlah terletak masa depan suatu bangsa".
Penyadaran kepada perempuan Bali melalui pendidikan agar mempunyai wawasan yang luas akan lebih meningkatkan kemampuan orang Bali secara keseluruhan baik dalam menjaga identitas budaya maupun dalam melahirkan generasi baru. Keharmonisan dan kemajuan keluarga terletak di tangan perempuan. Belakangan ini, perempuan Bali memang sudah mencoba menempatkan diri, berjuang mendapatkan emansipasi dengan baik. Dalam pendidikan, perempuan-perempuan Bali sudah setara dengan laki-laki bahkan sudah banyak yang memperoleh gelar profesor, mendapatkan pendidikan S1 maupun S2, namun dalam perannya di dalam pembangunan hanya segelintir orang yang mau terjun. Demikian pula dalam hal karier, perempuan Bali hanya mencapai tingkat menengah ke bawah, hanya sebagian kecil saja yang mampu mengambil kedudukan di tingkat eksekutif.
Di lain pihak, perempuan Bali ingin melupakan pekerjaan di rumah tangganya, karena menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga hanyalah pekerjaan sambilan saja. Yang dianggap mempunyai pekerjaan kalau bisa menghasilkan uang, sehingga pekerjaan utama adalah mampu meniti karier. Kalau sudah demikian, berarti perempuan Bali sudah mulai berpikir egois, hanya memikirkan dirinya saja, lupa bahwa dia masih punya anak dan keluarga. Kalau merasa bahwa di tangan perempuan sebenarnya terletak harapan bangsa, harapan kita bisakah perempuan Bali tetap berperan sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri dalam rumah tangga, di samping dirinya juga sebagai perempuan di dalam meniti karier? Sebagai seorang ibu, jangan hanya bisa melahirkan anak saja. Kalau memang tak ada waktu dan tak senang memelihara anak, cobalah jangan punya anak. Anak tak hanya untuk dilahirkan, tetapi mempunyai anak adalah untuk dibina dan dididik menjadi orang yang lebih berguna di masyarakat.
Belakangan ini kelihatannya peran perempuan-perempuan Bali mulai bergeser, lebih mementingkan karier, lupa pada fungsinya sebagai seorang ibu. Di samping itu, seorang istri sering berpikir, "Laki-laki bisa, kenapa saya tidak bisa?" Sehingga dalam perselingkuhan pun perempuan Bali mulai berpikir, "Kalau suami saya bisa, kenapa saya tidak bisa". Dalam hal ini perempuan diharapkan sadar dalam berkompetisi dengan laki-laki dengan membina suami agar jangan sampai mencari perempuan lain. Bagaimana suami bisa kembali berpikir bahwa istrinya adalah yang terbaik di dalam hidupnya.
Memang selama ini perempuan selalu diletakkan sebagai perempuan lemah, sebagai perempuan kelas dua, tetapi kalau kami terus memikirkan itu, kemudian berontak, dan terus berusaha untuk mendapatkan tempat, maka akhirnya perempuan Bali akan kehabisan tenaga untuk memperjuangkan hal tersebut. Saya justru menganjurkan kepada perempuan, berhenti menyebut diri kelas dua, kelas pinggiran, mari kita berbuat. Buatlah sesuatu yang bisa memberikan pandangan bahwa perempuan tidak seperti yang mereka duga. Kalau kita sudah memperlihatkan diri dalam pendidikan, dalam peranan di rumah tangga, maupun dalam aktivitas di masyarakat, maka secara otomatis orang laki-laki tidak akan berpikir dia itu seorang perempuan, tetapi dia itu adalah orang yang mampu.
Janganlah perempuan terus memperbincangkan tentang peranan yang tak seimbang. Berbuatlah, tunjukkan pada masyarakat bahwa inilah perempuan dan nanti tanpa sadar laki-laki akan menganggap perempuan dan laki-laki adalah sama, cuma fungsi yang berbeda tergantung kesenangan perempuan memilih peranan itu dan mempergunakan kesempatan yang ada.
Masyarakat Bali tidak pernah menempatkan perempuan sebagai perempuan lemah. Tidak ada orang tua yang mengajarkan anak laki-lakinya, "Tolong bantu adikmu yang perempuan yang lebih lemah darimu". Justru masyarakat Bali mendidik anak-anaknya, laki-laki maupun perempuan, sama saja. Orang tua lebih menekankan pendidikan di rumah pada anak perempuannya karena ia akan meninggalkan keluarganya mengikuti keluarga suami. Anak perempuan diberikan pendidikan lebih keras dengan harapan ia akan membawa nama keluarga. Jangan sampai memalukan keluarga. Jangan sampai kehadirannya dicemoohkan, dikatakan dari keluarga yang bisanya hanya menadahkan tangan saja, tidak bisa bekerja membantu keluarga. Bisa dilihat dalam aktivitas sehari-hari, di rumah perempuan memasak, semua diatur oleh perempuan, tetapi di dalam upacara besar, yang memasak bukan perempuan justru laki-laki.
Kemudian kita melihat bagaimana masyarakat Bali memandang para Dewa dan Dewi itu, semua mendapatkan penghargaan sama dari penganutnya. Tidak ada yang memandang Dewi Saraswati lebih rendah dari suaminya Dewa Brahma. Semuanya dihormati sama tergantung dari posisi dan kemampuannya. Jadi di masyarakat Bali tidak ada perbedaan dalam peranan antara perempuan dan laki-laki, yang berbeda hanyalah fungsinya.
Perempuan menjalankan kodratnya, perempuan tentu akan hamil. Kalau ingin melahirkan anak-anak yang berkualitas, bisakah perempuan-perempuan itu merencanakan kalau ingin punya seorang anak, berapa mau punya anak. Kemudian dalam perencanaan itu bisakah mempersiapkan diri karena selama bayi dalam kandungan, seorang ibu sudah mulai menanamkan dasar kepribadian untuk anaknya. Dalam hal ini, perempuan maupun laki-laki dapat mempersiapkan diri dalam keadaan tenang. Tidak membawa karma masa lampaunya sehingga di dalam melahirkan anak, tidak lagi berada dalam keadaan tegang, cemas ataupun bingung. Dan setelah merasa diri siap, barulah punya anak.
Seandainya janin sudah terbentuk, maka yang perlu dipersiapkan adalah bisakah ibu berada dalam keadaan tenang. Suaminya pun harus men-support, memberikan kasih sayang, cinta kasih, rasa aman pada janin dalam kandungan. Dalam hal ini, laki-laki maupun perempuan dapat melakukan meditasi, dekat dengan Tuhan, sehingga situasi spiritual tetap mempengaruhi janin dalam kandungan. Seandainya seorang ibu saat hamil sering marah, maka dasar kepribadian yang ditanamkan pada anak adalah marah. Kalau seorang ibu tetap merasa bertanggungjawab pada anak, berusahalah tetap mempertahankan emosi dalam keadaan tenang, dekat dengan Tuhan, banyak belajar, kalau ingin melahirkan anak yang berkualitas.
Di samping emosi yang kita bina, juga perlu disadari bahwa pembentukan otak jantan dan otak betina pada janin sangat erat hubungannya dengan aktivitas ibunya selama mengandung. Kalau saat mengandung seorang ibu suka belajar, selalu merasa ingin tahu, selalu ingin mencoba dan berada dalam keadaan tenang, maka akan terbentuk pada janin otak jantan, yang akan menghasilkan orang yang selalu ingin tahu, ingin mencoba, ingin bersaing dan hidupnya adalah untuk bekerja. Sedangkan kalau janin mempunyai otak betina, maka kalau ia sudah besar di dalam dirinya ingin selalu menjaga hubungan baik dengan orang lain, tergantung orang lain dan ingin hidup secara rutin tanpa membuat sesuatu perubahan. Mampukah seorang ibu melahirkan anak yang mempunyai otak jantan dan betina seimbang, sehingga kehidupan anak ini harmonis, senang menemukan hal baru, hidup untuk kerja, tetapi juga mementingkan hubungan baik dengan orang lain?

Menangkan Dharma

MENANGKAN DHARMA DI SETIAP LANGKAH KEHIDUPAN
Waktu berputar terus dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari dan tahun ke tahun dan tidak pernah terhenti, sehingga tak terasa oleh kita waktu enam bulan begitu cepat bergulir. Setiap enam bulan kita selalu merayakan Hari Raya [[Galungan]] dan [[Kuningan]] yang merupakan perayaan kemenangan dharma melawan adharma. Berkenaan dengan tujuan hari raya tersebut, saya ingin mengajak pembaca yang budiman, terutama saudara umat Hindu untuk merenung dan bertanya sejenak kepada diri kita masing-­masing: "Apakah kita sudah dapat memenangkan dharma (kebenaran) tersebut ?” Sudah tentu jawabannya ada pada relung hati kita masing‑masing.
Kita menyadari, bahwa setiap aktivitas atau kewajiban dalam kehidupan sehari‑hari selalu memiliki sisi yang berbeda atau yang lumrah disebut "rwa bhineda"; yang tidak dapat diabaikan. Dengan kata lain, dalam perjuangan kita melaksanakan tugas atau kewajiban dalam hidup ini selalu ada perbedaan atau terjadi "perang" dalam pikiran kita. Peperangan yang terjadi adalah perang antara dharma melawan adharma. Apabila kita simak lebih dalam peperangan antara dharma melawan adharma yang terjadi pada diri kita masing‑masing, sebenarnya merupakan peperangan melawan musuh‑musuh dalam diri kita sendiri, antara lain peperangan/pengendalian melawan sad ripu, sad atatayi dan sapta temira. Dalam peperangan tersebut saya yakin setiap orang menginginkan kemenangan dalam peperangan tersebut. Sudah tentu hasil peperangan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan tiap‑tiap orang berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, kemampuan pengendalian dirinya serta sejauh mana latihan pengendalian diri yang dilakukannya. Setiap orang menginginkan kemenangan dharma atas adharma. Kemenangan salah satu dari kedua tersebut, akan tercermin dari cara orang itu berbicara dan perilaku yang ia tunjukkan dalam kehidupan kesehariannya.
Apabila dharma yang menang dalam peperangan tersebut, maka apapun sikap atau perilaku yang diwujudkan dan kata‑kata yang diucapkannya sudah pasti berdasarkan dharma atau kebenaran, seperti sabar, ramah, penuh welas asih dan lain-lain. Sehingga setiap ucapan dan tindakannya dapat membahagiakan dan mendamaikan orang lain dan dirinya sendiri. Demikian pula sebaliknya, apabila adharma yang menang dalam peperangan tersebut, sudah tentu ucapan dan sikap atau perilaku yang ia wujudkan tidak didasari oleh dharma atau bertentangan dengan kebenaran, misalnya, sering marah, selalu memendam rasa benci, iri hati, lobha, kekerasan dan lain sebagainya, yang sudah tentu akan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, maka kita berusaha untuk selalu dapat memenangkan dharma atau kebenaran dalam setiap langkah kita.
Apabila kita dapat memenangkan dharma dalam setiap langkah atau aktivitas kita, sudah tentu betapa manis dan ceria serta damainya hati kita merayakan kemenangan dharma atas adharma setiap enam bulan, sehingga kita betul‑betul merayakan kemenangan dharma melawan adharma dengan penuh bahagia dan damai sesuai dengan hasil peperangan kita dalam setiap langkah dalam kehidupan sehari‑hari.
Demikian sekilas renungan, mudah‑mudahan tulisan ini dapat menyentuh hati nurani pembaca, bahwa kemenangan dharma hendaknya selalu diupayakan di setiap langkah kita, sehingga perayaan Hari Raya Galungan yang kita rayakan setiap enam bulan, betul‑betul memberi nuansa kebahagiaan dan kedamaian bagi kita semua. Saya selalu berdoa dan berharap, semoga kita dapat memenangkan dharma dalam setiap langkah kita dalam mengarungi samudera kehidupan ini.

Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om.

Kamis, 28 Agustus 2008

W A C A N A

APAKAH BALI AKAN TETAP HINDU ?
Mengapa Bali tetap Hindu ?
Setelah keruntuhan Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen. Bali, menurut mendiang Clifford Geertz, sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali? Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya “A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm” memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.Di bawah subjudul “Why Bali Remained Hindu” Pringle menulis sebagai berikut : Kenapa, setelah keruntuhan Mahapahit, Bali tetap jauh tinggi (aloof) dari kecendrungan kepulauan Nusantara dan gagal memeluk Islam? Geografi tentu saja bukan jawaban yang cukup; seperti dicatat sebelumnya, Selat Bali yang sempit dan dangkal, yang memisahkan pulau ini dari Jawa, tidak pernah merupakan hambatan serius bagi perobahan. Tentu saja ada hambatan-hambatan kultural bagi penetrasi Islam – kegemaran akan daging babi adalah hal yang sering dikutip – tetapi hambatan yang sama ada di Jawa, di mana konversi kepada Islam sungguh-sungguh, sekalipun sering hanya secara nominal, bersifat universal. Orang-orang Bali tidak pernah secara sungguh-sungguh anti Islam. Komunitas Islam terus ada (di Bali) paska Majapahit. Puri-puri dan para penguasa Bali tetap menerima kehadiran orang Muslim sebagai pedagang dan menyewa mereka sebagai tentara. Waktu memberikan orang-orang Bali Hindu ruang nafas politik. Tidak ada kerajaan Islam yang kuat di Jawa sampai kemunculan Mataram, yang mulai pada akhir abad 16, hampir seratus tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sementara Mataram mampu mengusir orang-orang Bali dari Belambangan secara temporer, Gelgel dan kerajaan penerusnya tetap kuat yang membuat invasi ke Bali menjadi sulit, dengan atau tanpa dukungan Belanda. (Tambahan dari saya : Bahkan Bali, diwakili oleh Buleleng atau Mengwi mampu menguasai sebagian Jawa Timur. Karangasem menguasai Lombok. Ketika Dalem Samprangan berkuasa, kekuasaannya meliputi Sumbawa. Bali pernah mempersiapkan diri untuk menyerang Mataram).Bagaimanapun juga, Mataram pertama-tama sibuk dengan saingan-saingannya di Jawa, dan kemudian dengan Belanda, tampaknya tidak tergoda oleh pertimbangan untuk melakukan pengislaman dengan api dan pedang di antara berbagai kantong orang-orang tidak percaya sepanjang pesisir sebelah timur Jawa.Belakangan, ekspansi Belanda melemparkan Mataram pada posisi defensif. Ketika kekuatan Belanda semakin berkembang, yang akhirnya membuat mereka mampu menguasai saingan-saingan Indonesianya, keuntungan politik yang mungkin didapat oleh para penguasa Bali melalui konversi ke Islam semakin berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali. (hal 70).Kutipan di atas berasal dari tulisan saya di Media Hindu no 39 dengan judul “Mengapa Bali Tetap Hindu.” Sekarang judulnya saya robah agar bernada pesimis. Sebab jika nadanya optimis, akan diabaikan atau dicemoh. Tetapi jika nadanya pesimis mudah-mudahan ada yang marah atau tersinggung, lalu bangun dari kantuknya. Bagi yang apatis tetap akan apatis, apakah nadanya optimis atau pesimis.Sekala dan Niskala.Penjelasan singkat di atas menyatakan bahwa ketahanan Hindu di Bali disebab oleh unsur niskala dan sekala. Mana yang lebih dominan? Menurut saya adalah unsur sekalanya. Kenapa?Kita jawab dulu apa yang dimaksud dengan sekala dan niskala, dalam pengertian umum saja. Sekala adalah segala hal yang dapat kita lihat, kita raba, hal-hal dari dunia materi ini. Niskala, adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat atau diraba, tetapi kita yakini keberadaannya. Atau hal-hal yang bersifat kerohanian seperti kepercayaan akan adanya Tuhan, para Dewa/Betara, sorga, neraka, moksha dll. Ketika Hindu berjaya pada jaman Majapahit, unsur niskalanya pasti ada. Tetapi karena unsur sekala diabaikan, maka Hindu runtuh dengan mudah. Majapahit runtuh bukan oleh serbuan tentara asing, tetapi oleh keyakinan asing yang diterima tanpa reserve oleh penguasa dan juga kawula yang beritikad baik dan sangat toleran tetapi tidak waspada. Menyerahkan pemeliharaan agama Hindu hanya kepada yang niskala saja, sudah terbukti gagal. Dua buah bangunan yang sama besar, luas dan tingginya, dibuat dari bahan yang sama di tempat yang berdampingan. Satu bangunan untuk tempat ibadah. Bangunan lain untuk kasino, pusat kenikmatan, termasuk yang bersifat seksual. Bangunan pertama tidak diberi penangkal petir, karena yakin Tuhan memelihara “rumahnya”. Bangunan kedua, karena sadar tempat ini sangat berbau duniawi diberi penangkal petir. Ketika petir terjadi di wilayah itu, kemungkinan yang akan rusak terbakar adalah “rumah” Tuhan itu. Sedangkan bangunan kasino akan selamat. Hukum alam tidak akan membedakan bangunan suci atau bangunan duniawi, termasuk yang digolongkan maksiat sekalipun.Di dalam perang antara Kaurawa dengan Pandawa di Kuruksetra, hal itu juga tercermin dengan jelas. Krishna yang merupakan lambang niskala, hanya berfungsi sebagai penasehat. Arjuna, yang merupakan simbol niskala, harus melakukan peperangan untuk menjaga kebenaran. Kenapa demikian? Manusia memiliki otonominya sendirinya; memiliki kebebasan untuk memilih dharma atau adharma. Manusia harus aktif menjaga kebenaran dan kedamaian. Dengan kata lain, yang niskala menghormati kebebasan yang sekala. Kembali ke inti pembicaraan, Bali tetap Hindu, karena secara militer waktu itu sangat kuat. Sebelum abad 19 pulau Bali dihindari oleh pelaut asing, karena penduduknya dianggap sangat “savage” Opini ini berobah setelah maskapai pelayaran Belanda, untuk kepentingan pariwisata, membentuk opini Bali sebagai pulau sorga yang damai dan eksotik. The Battle of Mind.Sekarang tentu saja kita tidak perlu menjaga Hindu di Bali secara militer. Sebab “pertempurannya” sekarang tidak memakai pedang, tombak atau keris. Tetapi memakai senjata yagn jauh lebih ekfektif yaitu intelek - “The Battle of Mind” Medannya, dari ruang publik sampai ruang privat. Kotbah-kotbah umum, apakah itu namanya tablig, atau kotbah penyembuhan. Buku-buku pelajaran, pengajaran dan kuliah-kuliah agama di ruang kelas. Tulisan di media massa. Berita, sineteron, kotbah di media elektronik. Yang terakhir ini yang paling hebat. Ia menembus masuk ke ruang-ruang pribadi setiap orang, termasuk kamar-kamar tidur orang-orang Hindu, yang yang berpendidikan tinggi ataupuan yang buta huruf.Di sinilah kelemahan kita. Orang Hindu hampir tidak ada yang memiliki media massa nasional, cetak maupun elektronik. Media massa ini, khususnya tv, ada beberapa yang memberikan kesempatan bagi siar Hindu. Namun kita belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Tv di Bali, yang memberikan slot cukup besar kepada siar Hindu, mutu siarannya masih lemah. Beberapa waktu lalu di sini ada posting yang menyatakan geli mendengar siaran Hindu di tv lokal itu. Bila dibandingkan dengan kotbah pendeta atau ulama dari agama lain yang membangkitkan semangat dan motivasi, dharma wacana orang Hindu masih jauh. Di dalam “the Battle of Sword” orang bisa terluka atau mati. Di dalam “the Battle of Mind” pasti tidak akan ada yang luka apalagi mati. Tetapi justru ada kesan orang-orang Bali enggan atau mungkin takut terlibat di dalam “the Battle of Mind.” Dulu, seorang pejabat tinggi Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, wanti-wanti berpesan agar Media Hindu tidak memuat berita tentang orang-orang agama lain yang kembali (rekonversi) ke Hindu. Padahal berita itu ada sumbernya yang jelas, dan itu terjadi di India. Di tv Indonesia ada berbagai tayangan tentang orang-orang yang baru beralih agama, apakah ke Islam atau Kristen. Mengapa dia takut? Saya tidak tahu karena ia tidak bicara langsung kepada saya. Dia memang bukan representasi seluruh masyarakat Hindu di Indonesia. Tetapi dia juga bukan satu pengecualian.Pejabat tinggi ini juga meminta kepada Sekolah Tinggi Agama Hindu di Jakarta atau Lampung untuk tidak memberi kuliah perbandingan agama. Bila kita tidak tahu agama-agama lain, bagaimana kita dapat melakukan dialog kritis dengan mereka? Melakukan dialog kritis tidak berarti membenci suatu suatu agama atau pemeluk agama tersebut. Bahkan dialog intelek tidak bisa dilakukan berdasarkan kebencian. Sebab kebencian akan menggelapkan rasio dan dengan demikian melemahkan argumennya.Oleh karena itu jangan buru-buru melompat pada kesimpulan bahwa memberikan pandangan kritis atau sekedar mengungkap fakta sejarah adalah penghujatan atau upaya menjelek-jelekkan. Agama, seperti ideology, memerlukan kritik untuk memperbaiki dirinya. Sama seperti kita, kita telah mengambil kritik dari luar maupun dari dalam untuk memperbaiki perilaku dan pemahaman keagamaan kita. Jadi setiap pemeluk agama harus bersikap dewasa di dalam hal ini. Kita telah menunjukkan kedewasaan, ketika dikatakan kafir dan penyembah berhala kita tidak berang dan menggangkat pedang.Tetapi kita perlu mengangkat pedang yang lain, yaitu pedang intelek, untuk memberi penjelasan, bahwa kita bukan menyembah berhala, tetapi menyembah Tuhan, Tuhan yang jauh lebih baik dari tuhan mereka, Tuhan yang adil. Tuhan bagi seluruh mahluk, bukan tuhan yang berpihak pada sekelompok orang, yang menganjurkan kebencian dan kekerasan kepada kelompok yang lain. Dan dengan cara yang lebih indah dan lebih pula.Dr David Frawley, direktur satu Yoga Center di AS, mengharapkan lahirnya para ksatriya intelektual untuk menjaga eksistensi Hindu. Analogi Sumur dan Rakit.Seorang penganjur bahwa semua agama adalah sama, pernah menulis di Media Hindu, justru karena semua agama sama maka orang tidak perlu pindah-pindah agama. Secara logika pernyataan ini tepat. Kalau semua agama sama buat apa pindah agama? Tetapi ia memberikan argumen yang menarik. Ibarat orang menggali sumur; baru menggali lima meter tidak menemukan air, lalu pindah ke tempat lain, di tempat baru ini ia menggali lima meter, tidak juga bertemu air. Bila terus demikian, maka penggali sumur itu akan sia-sia saja. Oleh karena itu setiap orang seharusnya terus menggali sedalam mungkin, sampai ia menemukan air yang dicarinya. Di dalam praktek tidaklah demikian. Kalau setelah menggali sedalam 10 meter, lalu yang ditemukan batu karang, untuk apa diteruskan? Atau bertemu air, tetapi baunya busuk, tentu orang akan pindah mencari lokasi lain untuk digali.Tetapi secara analogi ini juga tidak tepat. .Seorang teman saya, orang Protestan, dengan gelar master dobel, satu dari AS, satu dari Australia, berkata kepada saya. “Bapak akan puas, bila dapat menundukkan diri sendiri. Karena agama bapak meminta bapak melihat ke dalam. Kalau saya lain lagi. Saya baru akan puas, ketika saya dapat menundukkan bapak agar ikut agama saya.”Dia adalah orang awam sama seperti saya. Tetapi pendapatnya itu ada dasarnya dalam Injil, yaitu perintah bagi setiap orang Kristen untuk pergi ke segala penjuru bumi, dan menjadikan bangsa-bangsa murid Yesus. Islam jug demikian. Nabi mereka, sampai akhir hayatnya meminta para pengikutnya untuk terus berjihad menjadikan Islam satu-satunya agama bagi dunia. Bila semua agama memerintahkan pengikutnya untuk “menggali sumur” atau melihat ke dalam sampai berjumpa dengan “dirinya sendiri” dunia ini pasti akan aman dan damai. Tetapi nyatanya tidak demikian. Ketika si Hindu sibuk menggali sumur semakin dalam, si Kristen dan si Islam sibuk berebut wilayah sekitar sumur. Ketika si Hindu kembali dari kedalaman bumi membawa air murni sambil meproklamirkan “semua air sama saja” ia menemukan air itu hanya berguna bagi dirinya sendiri, karena wilayahnya sudah dimiliki si Kristen atau / bersama si Islam. Si Kristen dan si Islam tidak membutuhkan air yang diambil dari inti bumi. Bagi mereka air sungai atau pancuran sudah cukup. Apakah si Hindu harus memasang pagar atau menyewa centeng untuk menjaga wilayahnya? Ini bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Bila ia melakukan itu, artinya ia melaksanakan apa yang ditolaknya, bahwa agama mengkotak-kotakkan dan bahwa agama tidak perlu dibela. Jadi ia dapat lepas dari dilemma ini, hanya bila ia melepaskan identitas Hindunya.Analogi rakit, agama hanya sekedar rakit, agak berbeda tetapi menghadapi dilemma yang sama. Analogi ini ada benarnya. Tetapi siapapun yang membuat analogi ini hanya melihatnya dari agama Hindu saja. Bagi Hindu dan juga Buddha, benar, agama hanyalah sarana untuk menyeberangkan manusia dari wilayah kehidupan sampai di batas wilayah kematian (atau kehidupan yang lain). Di dunia kehidupan yang lain itu agama memang tidak disebut-sebut lagi.Tetapi bagi keyakinan Kristen atau Islam tidak demikian. Agama tidak berhenti sampai di tepi kehidupan dunia lain itu, yang mereka sebut dunia akhirat. Agama terus masuk sampai ke inti kehidupan akhirat. Bagi keyakinan orang Kristen, keyakinan mereka akan kebenaran Yesus sebagai Tuhan, atau Putra Allah, yang menyelamatkan mereka. Bagi orang Islam keyakinan mereka kepada Islam dan Muhammad sebagai Nabi akan menyelamakan atau menjamin sorga bagi mereka. Menurut Islam, ketika ia mati dan sampai di pintu alam kubur, dua orang malaikat akan menanyai apa agama dan siapa nabinya. Bila agamanya bukan Islam dan nabinya bukan Muhammad maka jiwa orang itu akan mendapat siksaan kejam. Dan di dalam persidangan pada hari Pengadilan Akhir, Muhammad akan memberi rekomendasi siapa yang masuk sorga atau neraka secara abadi. Allah akan memerima rekomendasi itu.Di dalam kedua agama ini keyakinan, bukan perbuatan yang menentukan status seseorang di dunia akhirat. Apakah keyakinan semacam ini absurd atau tidak, itulah keyakinan yang dipercayai oleh mereka. Jadi di sini analogi rakit menghadapi kesulitannya sendiri. Dan ia hanya melepaskan diri dari kesulitan ini, dengan melepaskan indentitas Hindunya. Tapi apa perdulinya dengan Hindu? Toh hanya rakit. Yang penting ia bebas. Sebuah solusi, yang sayangnya, bersifat mementingkan diri sendiri. Ego.Kesamenis : Sekutu missonaris Pendirian atau pernyataan, seperti “semua agama adalah sama”, “agama hanya sekedar rakit”, “Sang Hyang Widdhi, Sang Hang Yesus, Allah SWT sama saja” oleh Dr Frank Gaetano Morales (Semua Agama Tidak Sama) disebut sebagai Radical Universalism, atau saya terjemahkan sebagai kesamensime. Sikap ini biasanya dianut oleh orang-orang Hindu. Pada saat lembaga dakwah atau missi agama-agama lain, khususnya Kristen dan Islam begitu gencar menyebarkan agamanya, sikap ini hanya melemahkan posisi Hindu di dalam “the Battle of Mind.” Lebih-lebih jika yang mengatakan itu tidak pernah mempelajari agama-agama lain. Ini adalah sikap arogan dari orang yang tidak tahu. Dan sikap semacam ini akan sangat menguntungkan para missionaries, Kristen ataupaun Islam, di dalam upaya mengkonversi orang-orang Hindu di Bali.Sejalan dengan mereak adalah kelompok yang ingin memisahkan budaya “Bali dengan agama Hindu” untuk membenarkan penggunaan idiom-idiom, dan praktek-praktek Hindu Bali oleh agama-agama lain. “Karena itu adalah budaya Bali, bukan agama Hindu,” katanya. Ini adalah sikap permisif yang bersumber pada kemalasan berpikir atau bahkan impotensi intelektual, yang makin memperlemah pertahanan Hindu.Mempercepat “Perobahan” Bali.Ada kelompok sampradaya yang berupaya untuk membuang ritual Hindu (ala) Bali dan menggantinya dengan hanya agnihotra, homayajna, atau ritual khas sampradayanya. Tetapi ada juga kelompok sampradaya, yang di samping melakukan ritual sesuai aturan sampradayanya juga menerima ritual Hindu ala Bali. Saya mendapat informasi kelompok sampradaya Hare Krishna, di Bali terbagi dalam dua kelompok. Yang menolak upakara ala Hindu-Bali yang tergabung dalam SAKKHI, dan yang menerima, yaitu yang tergabung dalam ISKCON. Pengikut Sai Baba dalam Anggaran Dasarnya terakhir menyatakan diri bukan sampradaya, tetapi hanya kelompok untuk studi Weda. Jika info ini tidak benar silahkan dikoreksi. Dua orang sulinggih yang menjadi tokoh PHDI Besakih dan pimpinan tertinggi Parisada, mengenai ritual kelompok sampradaya yang dilakukan di lapangan Renon pada awal tahun 2006, mengatakan “Itu agama baru. Mereka seharusnya melakukan itu di dalam tempat ibadah mereka sendiri. Bukan di tempat umum!” Pernyataan kedua sulinggih ini saya dengar langsung di suatu griya di Denpasar. Kalau sulinggih dari “kelompok Besakih” saja sudah berpendapat demikian, apalagi sulinggih dari kelompok lain.Dengan dukungan strategi dakwah yang terencana dan berpengalaman, dana untuk perbedayaan ekonomi dan pendidikan, media massa untuk pembentukan opini, dan birokrasi (dalam kasus Islam) yang memberi kemudahan fasilitas ataupun kesempatan, para missonaris, baik Kristen maupun Islam, akan memperoleh manfaat besar dari ketiga kelompok di atas. Ketiga kelompok di atas, kaum kesamenis, “separatis” yang membedakan antara budaya Bali dengan agama Hindu, dan sampradaya yang membuang ritual ala Hindu Bali, bergabung jadi satu, akan merupakan akselarator perobahan Bali dari Hindu, apakah menjadi Bali Kristen atau Bali Islam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh ketiga kelompok ini adalah semacam bunuh diri massal.Pendapat saya belum tentu benar.
Tapi tolong tunjukkan kepada saya, dari segi apa ketiga pendapat atau kelompok di atas memperkuat Hindu di Bali ?
Om santi, santi, santi Om